Perawat Pertama di Dunia Islam
Rufaidah Al-Aslamiyah: Perawat Pertama di Dunia Islam (Abad 6-7 M.)
Kebutuhan peran ahli kesehatan sangat dibutuhkan
ketika terjadi peperangan yang dilakukan umat Islam. Pada periode ini, Nabi dan
umat Islam melakukan sejumlah peperangan. Setidaknya riwayat dari Sahih
AlBukhari peperangan yang diikuti langsung oleh Rasulullah saw berjumlah enam
belas kali. Sementara dari riwayat Muslim menyebutkan Rasulullah saw berperang
sembilan belas kali. Sumber lain mengatakan bahwa peperangan yang terjadi pada
periode kenabian berjumlah 27 kali.
Peperangan tersebut berefek kepada banyaknya korban jiwa dan cacat
fisik maupun mental. Mereka ada yang terluka karena kibasan pedang, tertusuk
tombak, dan dihujani oleh anak panah musuh. Sebagian besar prajurit mengalami
perdarahan yang sangat hebat. Mereka yang menjadi korban dibawa kemudian
dirawat ditempat yang sudah ditentukan. Bahkan pada peristiwa perang khandaq, masjid Nabawi berubah
menjadi tempat merawat korban perang.
Salah satu dari orang yang dikenal
sebagai perawat awal Islam adalah Rufaidah binti Sa’ad Al-Bani Aslam AlKharaj. Ia adalah anak seorang tabib yang berasal
dari Bani Aslam yang mengobati orang-orang yang terluka ketika peperangan
terjadi antara umat Islam
dan kaum kafir Quraisy. Bani
Aslam ini sangat terkenal dengan kehebatan mereka dalam mengobati orang yang
sakit sejak zaman pra-Islam. Ia
lahir di Yathrib, sekitar 25 tahun sebelum kedatangan Rasulullah Saw. Jika
pendapat ulama ini benar, maka ia lahir sekitar tahun 597 M
Pendidikan
keperawatan yang diterimanya didapatkan dari ayahnya dikarenakan beliau
berprofesi sebagai tabib.
Praktik keperawatan sudah melekat di kehidupannya dan telah dimulai sejak masih
kecil. Ketika sudah menginjak usia remaja, ayahnya meminta ia bekerja sebagai
asisten ayahnya. Hingga
usia dewasa, ayahnya memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengembangkan
kemampuannya dalam merawat. Pengawasan terhadap
Rufaidah sudah jarang dilakukan lagi oleh ayahnya
ketika ia sedang merawat pasien. Ayahnya telah mewariskan praktik keperawatan
dasar masyarakat Arab dan kemudian dikembangkan ketika periode Islam di Madinah.
Rufaidah Al-Aslamiyah berbaiat kepada
Nabi Muhammad setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Saat itu, ia termasuk ke
dalam golongan pertama yang masuk Islam. Ia mengambil peranan penting ketika
Islam telah masuk ke kota Madinah. Peranan ia terbagi menjadi tiga, yakni
peranan ia ketika sebelum peperangan Islam, peperangan Islam dan pasca
peperangan Islam.
Sebelum peperangan Islam sekitar
tahun 622 M, Rufaidah merubah metode pengobatan yang diajarkan oleh ayahnya
dengan menyesuaikan ajaran Islam. Perubahan itu terkait dua hal. Pertama,
terkait dengan tempat yang biasanya dijadikan oleh ayahnya sebagai tempat
pengobatan. Ia membersihkan tempat itu menjadi nyaman, higienis, dan bersih.
Tempat itu dulunya sangat kotor sehingga kenyamanan pasien tidak diperhatikan.
Perubahan ini dilakukan atas dasar ajaran Rasulullah saw bahwa Islam merupakan
agama yang mengedepankan kebersihan. Karena kebersihan sebagian dari iman.
Kedua, menghilangkan jampi-jampi dan jimat untuk mengobati pasien. Menurut
ajaran Islam itu bersifat syirik. Hal ini merupakan salah satu dosa besar. Ia
menggantinya dengan doa-doa dan salawat yang diajarkan Rasulullah kepadanya.
Atas perubahan-perubahan itu ia
memiliki keutamaan pada zamannya. Ia
melakukan pengobatan kepada setiap pasien-pasiennya selalu diiringi dengan
berdakwah tentang keutamaan Islam. Ia meminta kepada pasiennya yang sedang
terkena penyakit untuk meminta perlindungan Allah atas apa yang telah di
deritanya.
Di tahun yang sama, ia juga telah
mendirikan sekolah keperawatan pertama di dunia Islam meskipun lokasinya tidak
dapat dilaporkan. Ia memimpin dan sekaligus mendidik para wanita muslim
dibidang keperawatan atas izin dari rasulullah Saw.
Selanjutnya, ketika peperangan Islam
berlangsung sekitar tahun 623- 630 M. Rufaidah dan kelompok Al-Asiyah(perawat wanita periode awal islam) pergi
ke Rasulullah. Mereka meminta izin pada beliau dengan mengatakan "Oh
utusan Allah, kami ingin pergi ke keluar bersama kamu untuk perang dan merawat
yang telah terluka dan menolong para muslim semampu kami." Rasulullah
memberikan mereka izin untuk pergi. Ia
berada di garis belakang untuk membantu tentara Islam yang terluka akibat
perang. Ia juga membawakan makanan dan minuman untuk semua mujahid yang
berperang bersama. Dalam
menunjang penanganan tentara yang terluka ia mendistribusikan makanan dan
mendirikan rumah sakit lapangan untuk korban yang terluka. Rumah sakit lapangan
Rufaidah adalah tenda palang merah pertama dalam sejarah manusia.
Kisah tentang Rufaidah ini ditulis
oleh Al-Bukhari dalam kitabnya alAdab al-Mufrad, berikut terjemahannya:
Dari Mahmud bin Labid, ia berkata: “Ketika Sa’ad terluka parah dalam perang Khandaq, umat Islam membawanya kepada seorang perempuan yang bernama Rufaidah, yang memiliki kepandaian dalam mengobati orang-orang yang terluka. Kemudian saran itu dipenuhi, hingga apabila Rasulullah Saw. melewatinya pada sore hari, beliau bertanya kepada Sa’ad, “Bagaimana kabar mu sore ini?” dan jika beliau menjenguk di pagi hari, Rasulullah Saw. bertanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Lalu Sa’ad memberikan jawaban kepada Rasulullah Saw.”
Keterlibatan Rufaidah tidak sebatas
peperangan Islam berlangsung, ketika perang selesai atau masa damai ia tetap
menjalankan peranannya dalam merawat orang yang sakit. Ia juga terlibat dalam
aktifitas sosial di masyarakat. Ia memberikan perhatian kepada setiap muslim,
miskin, anak yatim, atau penderita cacat mental. Ia merawat anak yatim dan
memberikan bekal pendidikan. Ia selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik
bagi yang
membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Ia digambarkan memiliki
kepribadian yang luhur dan empati sehingga memberikan pelayanan keperawatan
yang diberikan kepada pasiennya dengan baik pula.
Ia mencurahkan pengetahuan, waktu dan
pengalaman hidupnya untuk menyiapkan dan mendidik perawat dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat akan pelayanan dan perawatan kesehatan. Perannya dalam
membangun dan meningkatkan keperawatan serta kesuksesan beliau dalam meletakkan
aturan-aturan baru dan tradisi adalah sebagai dasar dalam memajukan
keperawatan.
Akhir hayatnya tidak ada kepastian,
akan tetapi satu yang pasti bahwa ia tidak pernah pindah ke tempat manapun.
Maka, dapat dipastikan bahwa meninggalnya di kota kelahirannya Madinah.
Prof Omar Hasan Kasule dalam studinya
menggambarkan Rufaidah sebagai perawat profesional pertama dalam sejarah Islam.
Menurut Omar, ia digambarkan sebagai perawat teladan, baik, dan bersifat
empati. “Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi
dan memotivasi orang lain.”
Komentar
Posting Komentar